Minggu, 10 November 2013

modul instalasi wan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah : SMK Texmaco Semarang
Mata Pelajaran : Melakukan Instalasi Perangkat WAN
Kelas /Semester : XI/2
Pertemuan ke : 1-2
Alokasi waktu : 20 x 45 menit
Standar Kompetensi : Melakukan instalasi perangkat jaringan berbasis luas
( WAN )
Kompetensi Dasar : Menjelaskan persyaratan WAN
Indikator :
1. Identifikasi segmen-segmen WAN.
2. Kebutuhan segmen WAN ditentukan menggunakan
analisis fungsional.
3. Kandungan dan volume lalulintas diperkirakan sesuai
harapan penggunaan organisasi.
I. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian WAN
2. Siswa dapat mengidentifikasikan segmen-segmen jaringan WAN.
3. Siswa dapat menyebutkan perangkat-perangkat yang dipakai pada jaringan WAN
4. Siswa dapat menyebutkan tipe-tipe koneksi jaringan WAN.
5. Siswa dapat menyebutkan teknologi dan protocol pada jaringan WAN
II. Materi Pembelajaran
Identifikasi jaringan WAN
Perangkat Jaringan WAN
Infrastruktur WAN (Wide Area Network)
“Wide-Area Network (WAN) adalah jaringan (network) komputer yang luas secara geografik.
Maksudnya, satu WAN terdiri dari dua atau lebih Local-Area Networks (LAN). LAN adalah
jaringan komputer yang tidak luas, misalnya kebanyakan LAN terbatas di satu gedung atau
beberapa gedung saja.”
Seperti LAN (Local Area Network), Terdapat sejumlah perangkat yang melewatkan aliran
informasi data dalam sebuah WAN. Penggabungan perangkat tersebut akan menciptakan
infrastruktur WAN. Perangkat-perangkat tersebut adalah :
· Router
· ATM Switch
· Modem and CSU/DSU
· Communication Server
· Multiplexer
· X.25/Frame Relay Switches
Router
Router adalah peningkatan kemampuan dari bridge. Router mampu
menunjukkan rute/jalur (route) dan memfilter informasi pada jaringan yang
berbeda. Beberapa router mampu secara otomatis mendeteksi masalah dan mengalihkan jalur
informasi dari area yang bermasalah.
Switch ATM
Switch ATM menyediakan transfer data berkecepatan tinggi antara LAN dan
WAN.
Modem (modulator / demodulator)
Modem mengkonversi sinyal digital dan analog. Pada pengirim, modem
mengkonversi sinyal digital ke dalam bentuk yang sesuai dengan teknologi
transmisi untuk dilewatkan melalui fasilitas komunikas analog atau jaringan telepon (public
telephone line). Di sisi penerima, modem mengkonversi sinyal ke format digital kembali.
CSU/DSU (Channel Service Unit / Data Service Unit)
CSU/DSU sama seperti modem, hanya saja CSU/DSU mengirim data dalam format digital melalui
jaringan telephone digital. CSU/DSU biasanya berupa kotak fisik yang merupakan dua unit yang
terpisah : CSU atau DSU.
Multiplexer
Sebuah Multiplexer mentransmisikan gabungan beberapa sinyal melalui sebuah
sirkit (circuit). Multiplexer dapat mentransfer beberapa data secara simultan
(terus-menerus), seperti video, sound, text, dan lain-lain.
Communication Server
Communication Server adalah server khusus â€oedial in/out” bagi pengguna untuk dapat
melakukan dial dari lokasi remote sehingga dapat terhubung ke LAN.
Switch X.25 / Frame Relay
Switch X.25 dan Frame Relay menghubungkan data lokal/private melalui jaringan data,
mengunakan sinyal digital. Unit ini sama dengan switch ATM, tetapi kecepatan transfer datanya
lebih rendah dibanding dengan ATM.
FTP - File Transfer Protocol. Protokol (seperangkat aturan yang mengatur secara tepat format
komunikasi antar sistem) standar untuk kegiatan lalu-lintas file (upload maupun download) antara
dua komputer yang terhubung dengan jaringan. Sebagian sistem FTP mensyaratkan untuk diakses
hanya oleh mereka yang memiliki hak untuk itu dengan menggunakan login tertentu.”
FTP merupakan protokol untuk transfer data (dalam hal ini bahan perpustakaan). Dengan
memanfaatkan FTP ini maka tidak perlu lagi diperlukan akses ke internet. Yang dibutuhkan adalah
LAN dan WAN saja sehingga pusat data bisa diakses siapa saja dalam WAN. Data2 bahan
kepustakaan itu tentu dalam bentuk softcopy. Kelebihannya adalah buku berbentuk soft-kopi dapat
dimiliki masing2 individu, karena tinggal download dari pusat data kepustkaan itu. Dan tidak
dikenal istilah buku diantri untuk dipinjam. Tidak diperlukan akses internet yang memakan biaya
mahal.
Karena WAN sudah tersedia sebelumnya maka biaya yang perlu dikeluarkan tidak akan mahal bila
harus membeli buku bergudang-gudang. Hanya saja perlu melakukan kerja sama dengan pihak
terkait sehingga diperoleh kata sepakat yg menguntungkan kedua belah pihak baik penerbitan
maupun pemakainya. Lho…siapa yang bertanggung jawab nih. Untuk kalangan pendidikan tentu
saja ada lembaga yg mestinya perduli, dalam hal ini pemda tingkat II atau tingkat I, sehingga
keberadaan WAN bener2 dapat dimanfaatkan.
Kendala lain yaitu kurang terbiasanya tenaga pendidik di wilayah saya itu untuk memanfaatkan
serta berbagi berbagai sumber kepustakaan. Hal ini tentu tidak terlalu sulit, karena untuk
sosialisasinya sebenarnya bisa ditangani/dibantu beberapa tenaga pendidik yg sedikit banyak telah
mulai terbiasa memanfaatkan kepustakaan digital di masing2 LAN.
1. Spesifikasi jaringan WAN
2. Perangkat WAN
3. Interkoneksi perangkat LAN dan WAN
III. Metode dan Media Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya jawab
c. Demontrasi /peragaan
d. Praktik
1. Media Pembelajaran
a. Modul
b. LCD Projektor
c. Personal Computer
IV. Langkah-langkah pembelajaran.
1. Kegiatan Awal
Guru memberikan pengantar materi tentang jaringan WAN
2. Kegiatan Inti
a. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasi jaringan WAN
b. Guru mengajak siswa untuk identifikasi segmen-segmen jaringan WAN
c. Guru menerangkan tentang peralatan yang dipakai pada jaringan WAN
3. Kegiatan Akhir
a. Guru menyampaikan kesimpulan.
b. Beberapa siswa diminta untuk menyebutkan peralatan yang dipakai pada
jaringan WAN
c. Penutup : doa bersama.
V. Sumber Belajar
a. Modul Perawatan PC
b. Internet
c. Majalah komputer
d. Toolkit
VI. Penilaian
a. Teknik Penilaian : tertulis.
b. Bentuk instrumen : soal tertulis.
c. Instrumen yang digunakan : (terlampir )
Semarang, 5 Februari 2010
Mengetahui Guru Mata Diklat
Kepala SMK Texmaco Semarang
Sukiman, S.Pd, M.Pd Yust Tri Atmaka, S.Kom
NIK.PO 300 197 001
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah : SMK Texmaco Semarang
Mata Pelajaran : Melakukan Instalasi Perangkat WAN
Kelas /Semester : XI/2
Pertemuan ke : 3-4
Alokasi waktu : 20 x 45 menit
Standar Kompetensi
Melakukan instalasi perangkat jaringan berbasis luas ( WAN )
Kompetensi Dasar:
Mengidentifikasi spesifikasi WAN
Indikator :
Pemilihan topologi jaringan WAN yang sesuai berdasar biaya dan perhitungan yang
telah ditetapkan.
Protokol WAN
I. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menjelaskan topologi pada jaringan WAN
2. Siswa dapat merencanakan spesifikasi media yang digunakan pada WAN
3. Siswa dapat merencanakan prakiraan biaya yang diperlukan untuk membangun
jaringan WAN.
II. Materi Pembelajaran
1. Topologi jaringan WAN
2. Proses dynamic routing dan protocol pada system WAN
3. Spesifikasi media yang digunakan pada WAN
4. Prakiraan biaya untuk membangun jaringan WAN
III. Metode dan Media Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya jawab
c. Demontrasi /peragaan
d. Praktik
2. Media Pembelajaran
a. Modul
b. LCD
c. Personal Computer
IV. Langkah-langkah pembelajaran.
1. Kegiatan Awal
Guru memberikan pengantar tentang jaringan WAN
4. Kegiatan Inti
a. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasi sumber daya jaringan WAN
b. Guru mengajak siswa untuk identifikasi segmen-segmen jaringan WAN
c. Guru menerangkan tentang peralatan yang dipakai pada jaringan WAN
5. Kegiatan Akhir
a. Guru menyampaikan kesimpulan.
b. Beberapa siswa diminta untuk menyebutkan peralatan yang dipakai pada
jaringan WAN
c. Penutup : doa bersama.
a. Sumber Belajar
i. Modul Perawatan PC
ii. Internet
iii. Majalah komputer
iv. Toolkit
b. Penilaian
a. Teknik Penilaian : tertulis.
b. Bentuk instrumen : soal tertulis.
c. Instrumen yang digunakan : (terlampir )
Semarang, 5 Februari 2010
Mengetahui Guru Mata Diklat
Kepala SMK Texmaco Semarang
Sukiman, S.Pd, M.Pd Yust Tri Atmaka, S.Kom

modul teknik komputer dan jaringan (tkj)

dudukan kaki untuk memanjat
dan anker cows tail
3.Cek semua sambungan kabel dan konektor termasuk penangkal petir bila ada
4.Pasang antena dengan rapi dan benar, arahkan dengan menggunakan kompas dan GPS sesuai
tempat kedudukan BTS di peta
5.Pasang kabel dan rapikan sementara, jangan sampai berat kabel menjadi beban sambungan
konektor dan mengganggu gerak pointing serta kedudukan antena
6.Perhatikan dalam memasang kabel di tower / pipa, jangan ada posisi menekuk yang potensial
menjadi akumulasi air hujan, bentuk sedemikian rupa sehingga air hujan bebas jatuh ke bawah
Instalasi Perangkat Radio
1.Instal PC Card dan Orinoco dengan benar sampai dikenali oleh OS tanpa konflik dan pastikan
semua driver serta utility dapat bekerja sempurna
2.Instalasi pada OS W2K memerlukan driver terbaru dari web site dan ada di CD utility kopian,
tidak diperlukan driver PCMCIA meskipun PNP W2K melakukannya justru deteksi ini
menimbulkan konflik, hapus dirver ini dari Device Manager
3.Instalasi pada NT memerlukan kecermatan alokasi alamat IO, IRQ dan DMA, pada BIOS lebih
baik matikan semua device (COM, LPT dll.) dan peripheral (sound card, mpeg dll.) yang tidak
diperlukan
4.Semua prosedur ini bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit tidak termasuk
instalasi OS, lebih dari waktu ini segera jalankan prosedur selanjutnya
5.Apabila terus menerus terjadi kesulitan instalasi, untuk sementara demi efisiensi lakukan
instalasi dibawah OS Win98 / ME yang lebih mudah dan sedikit masalah
6.Pada instalasi perangkat radio jenis Wireless In A Box (Mtech, Planet, Micronet dlll.), terlebih
dahulu lakukan update firmware dan utility
7.Kemudian uji coba semua fungsi yang ada (AP, Inter Building, SAI Client, SAA2, SAA Ad
Hoc dll.) termasuk bridging dan IP Addressing dengan menggunakan antena helical, pastikan
semua fungsi berjalan baik dan stabil
8.Pastikan bahwa perangkat Power Over Ethernet (POE) berjalan sempurna
Pengujian Noise
1.Bila semua telah berjalan normal, install semua utility yang diperlukan dan mulai lakukan
pengujian noise / interferensi, pergunakan setting default
2.Tanpa antena perhatikan apakah ada signal strenght yang tertangkap dari station lain
disekitarnya, bila ada dan mencapai good (sekitar 40 % – 60 %) atau bahkan lebih, maka
dipastikan station tersebut beroperasi melebihi EIRP dan potensial menimbulkan gangguan bagi
station yang sedang kita bangun, pertimbangkan untuk berunding dengan operator BTS / station
eksisting tersebut
3.Perhatikan berapa tingkat noise, bila mencapai lebih dari tingkat sensitifitas radio (biasanya
adalah sekitar – 83 dbm, baca spesifikasi radio), misalnya – 100 dbm maka di titik station
tersebut interferensinya cukup tinggi, tinggal apakah signal strenght yang diterima bisa melebihi
noise
4.Perhitungan standar signal strenght adalah 0 % – 40 % poor, 40 % - 60 % good, 60 % - 100 %
excellent, apabila signal strenght yang diterima adalah 60 % akan tetapi noisenya mencapai 20 %
maka kondisinya adalah poor connection (60 % - 20 % - 40 % poor), maka sedapat mungkin
signal strenght harus mencapai 80 %
5.Koneksi poor biasanya akan menghasilkan PER (packet error rate – bisa dilihat dari persentasi
jumlah RTO dalam continous ping) diatas 3 % – 7 % (dilihat dari utility Planet maupun Wave
Rider), good berkisar antara 1 % - 3 % dan excellent dibawah 1 %, PER antara BTS dan station
client harus seimbang
6.Perhitungan yang sama bisa dipergunakan untuk memperhatikan station lawan atau BTS kita,
pada prinsipnya signal strenght, tingkat noise, PER harus imbang untuk mendapatkan stabilitas
koneksi yang diharapkan
7.Pertimbangkan alternatif skenario lain bila sejumlah permasalahan di atas tidak bisa diatasi,
misalkan dengan memindahkan station ke tempat lain, memutar arah pointing ke BTS terdekat
lainnya atau dengan metode 3 titik (repeater) dll.
Perakitan Antena
1.Antena microwave jenis grid parabolic dan loop serta yagi perlu dirakit karena terdiri dari
sejumlah komponen, berbeda dengan jenis patch panel, panel sector maupun omni directional
2.Rakit antena sesuai petunjuk (manual) dan gambar konstruksi yang disertakan
3.Kencangkan semua mur dan baut termasuk konektor dan terutama reflektor
4.Perhatikan bahwa antena microwave sangat peka terhadap perubahan fokus, maka pada saat
perakitan antena perhatikan sebaik-baiknya fokus reflektor terhadap horn (driven antena), sedikit
perubahan fokus akan berakibat luas seperti misalnya perubahan gain (db) antena
5.Beberapa tipe antena grid parabolic memiliki batang extender yang bisa merubah letak fokus
reflektor terhadap horn sehingga bisa diset gain yang diperlukan
Pointing Antena
1.Secara umum antena dipasang dengan polarisasi horizontal
2.Arahkan antena sesuai arah yang ditunjukkan kompas dan GPS, arah ini kita anggap titik
tengah arah (center beam)
3.Geser antena dengan arah yang tetap ke kanan maupun ke kiri center beam, satu per satu pada
setiap tahap dengan perhitungan tidak melebihi ½ spesifikasi beam width antena untuk setiap sisi
(kiri atau kanan), misalkan antena 24 db, biasanya memiliki beam width 12 derajat maka,
maksimum pergeseran ke arah kiri maupun kanan center beam adalah 6 derajat
4.Beri tanda pada setiap perubahan arah dan tentukan skornya, penentuan arah terbaik dilakukan
dengan cara mencari nilai average yang terbaik, parameter utama yang harus diperhatikan adalah
signal strenght, noise dan stabilitas
5.Karena kebanyakan perangkat radio Wireless In A Box tidak memiliki utility grafis untuk
merepresentasikan signal strenght, noise dsb (kecuali statistik dan PER) maka agar lebih praktis,
untuk pointing gunakan perangkat radio standar 802.11b yang memiliki utility grafis seperti
Orinoco atau gunakan Wave Rider
6.Selanjutnya bila diperlukan lakukan penyesuaian elevasi antena dengan klino meter sesuai
sudut antena pada station lawan, hitung berdasarkan perhitungan kelengkungan bumi dan
bandingkan dengan kontur pada peta topografi
7.Ketika arah dan elevasi terbaik yang diperkirakan telah tercapai maka apabila diperlukan dapat
dilakukan pembalikan polarisasi antena dari horizontal ke vertical untuk mempersempit beam
width dan meningkatkan fokus transmisi, syaratnya kedua titik mempergunakan antena yang
sama (grid parabolic) dan di kedua titik polarisasi antena harus sama (artinya di sisi lawan
polarisasi antena juga harus dibalik menjadi vertical)
Pengujian Koneksi Radio
1.Lakukan pengujian signal, mirip dengan pengujian noise, hanya saja pada saat ini antena dan
kabel (termasuk POE) sudah dihubungkan ke perangkat radio
2.Sesuaikan channel dan nama SSID (Network Name) dengan identitas BTS / AP tujuan,
demikian juga enkripsinya, apabila dipergunakan otentikasi MAC Address maka di AP harus
didefinisikan terlebih dahulu MAC Address station tersebut
3.Bila menggunakan otentikasi Radius, pastikan setting telah sesuai dan cobalah terlebih dahulu
mekanismenya sebelum dipasang
4.Perhatikan bahwa kebanyakan perangkat radio adalah berfungsi sebagai bridge dan bekerja
berdasarkan pengenalan MAC Address, sehingga IP Address yang didefinisikan berfungsi
sebagai interface utility berdasarkan protokol SNMP saja, sehingga tidak perlu dimasukkan ke
dalam tabel routing
5.Tabel routing didefinisikan pada (PC) router dimana perangkat radio terpasang, untuk Wireless
In A Box yang perangkatnya terpisah dari (PC) router, maka pada device yang menghadap ke
perangkat radio masukkan pula 1 IP Address yang satu subnet dengan IP Address yang telah
didefinisikan pada perangkat radio, agar utility yang dipasang di router dapat mengenali radio
6.Lakukan continuos ping untuk menguji stabilitas koneksi dan mengetahui PER
7.Bila telah stabil dan signal strenght minimum good (setelah diperhitungkan noise) maka
lakukan uji troughput dengan melakukan koneksi FTP (dengan software FTP client) ke FTP
server terdekat (idealnya di titik server BTS tujuan), pada kondisi ideal average troughput akan
seimbang baik saat download maupun up load, maksimum troughput pada koneksi radio 1 mbps
adalah sekitar 600 kbps dan per TCP connection dengan MTU maksimum 1500 bisa dicapai 40
kbps
8.Selanjutnya gunakan software mass download manager yang mendukung TCP connection
secara simultan (concurrent), lakukan koneksi ke FTP server terdekat dengan harapan maksimum
troughput 5 kbps per TCP connection, maka dapat diaktifkan sekitar 120 session simultan
(concurrent), asumsinya 5 x 120 = 600
9.Atau dengan cara yang lebih sederhana, digunakan skala yang lebih kecil, 12 concurrent
connection dengan trouhput per session 5 kbps, apa total troughput bisa mencapai 60 kbps
(average) ? bila tercapai maka stabilitas koneksi sudah dapat dijamin berada pada level
maksimum
10.Pada setiap tingkat pembebanan yang dilakukan bertahap, perhatikan apakah RRT ping
meningkat, angka mendekati sekitar 100 ms masih dianggap wajar